OPINI
Oleh: Eko Nurdiansyah
(Pembina Yayasan Lembaga Solidaritas Anak Bangsa Cinta Damai Indonesia/YLSABCDI)
Di tengah arus globalisasi yang bergerak begitu cepat, bangsa Indonesia menghadapi tantangan besar yang tidak selalu terlihat secara kasatmata. Salah satunya adalah perubahan karakter generasi muda yang perlahan bergeser dari mentalitas sebagai produsen dan pencipta menjadi sekadar konsumen teknologi dan produk kemudahan.
Persoalan ini patut menjadi perhatian bersama. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang dimiliki, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu mengendalikan dan memanfaatkan teknologi tersebut secara produktif.
Kemudahan teknologi pada dasarnya merupakan sebuah kemajuan. Namun, ketika kemudahan justru membuat seseorang kehilangan daya pikir, daya juang, kreativitas, dan kemandirian, maka kemajuan tersebut perlu dikaji kembali.
Generasi muda yang terbiasa mendapatkan segala sesuatu secara instan berpotensi kehilangan proses penting dalam membangun karakter. Keinginan untuk memperoleh hasil dengan cepat tanpa melalui perjuangan dapat melahirkan mentalitas konsumtif dan ketergantungan.
Kemudahan atau Pelemahan Mental?
Pertanyaan penting kemudian muncul: apakah kemudahan yang ditawarkan era modern benar-benar membawa generasi bangsa menuju kemajuan, atau justru secara perlahan melemahkan mental kemandirian?
Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Kita dapat melihat bagaimana sebagian generasi muda semakin terbiasa dengan berbagai fasilitas yang membuat kehidupan menjadi praktis. Namun, di sisi lain, tidak sedikit yang mulai kehilangan ketahanan menghadapi kesulitan, proses panjang, dan kegagalan.
Jika kondisi tersebut dibiarkan, persoalannya bukan lagi sekadar perubahan gaya hidup. Lebih jauh, hal itu dapat menyentuh persoalan karakter dan masa depan bangsa.
Bung Karno sejak dahulu telah mengingatkan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. Semangat tersebut menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri tanpa terus-menerus bergantung kepada pihak lain.
Pesan tentang pentingnya kemandirian juga pernah disampaikan Presiden Soeharto ketika menggambarkan pemuda sebagai tumpuan dan pemegang estafet kepemimpinan bangsa.
Pertanyaannya sekarang, sanggupkah generasi muda mengemban amanat tersebut apabila mental konsumtif dan ketergantungan semakin menguat?
Kembali Menjadi Generasi Pencipta
Semangat kemandirian tidak cukup hanya menjadi slogan. Ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Generasi muda perlu didorong untuk kembali menjadi generasi pencipta—generasi yang tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi mampu menciptakan inovasi, membuka lapangan pekerjaan, menghasilkan produk, serta memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.
Seperti semangat yang pernah ditegaskan Panglima Besar Jenderal Sudirman, semangat juang tidak boleh pernah padam.
Tempat generasi muda yang sejati bukan hanya di ruang yang penuh kemudahan, tetapi juga di garis depan perjuangan untuk membangun masa depan bangsa.
Kemandirian juga bukan sekadar slogan. Ia merupakan tindakan nyata yang harus dimulai dari hal-hal sederhana: membangun budaya gotong royong, memperkuat kepedulian sosial, menghargai proses, bekerja keras, serta berani menciptakan sesuatu.
Ketika nilai-nilai tersebut kembali tumbuh, bangsa Indonesia bukan hanya membangun kemandirian ekonomi, tetapi juga sedang membangun kembali karakter dan jati diri bangsa.
Saatnya Generasi Bangsa Bangkit
Sudah saatnya generasi bangsa bangkit dan bergerak dari sekadar pengguna menjadi pencipta.
Masa depan Indonesia tidak akan dibangun hanya dengan teknologi, aplikasi, maupun berbagai bentuk kemudahan. Masa depan bangsa dibangun melalui kerja keras, kreativitas, keberanian, gotong royong, dan semangat kemandirian.
Jangan biarkan kemudahan zaman justru membuat daya juang generasi muda melemah.Sebab, masa depan bangsa bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Masa depan harus diperjuangkan dan dibangun melalui tangan generasi yang memiliki keberanian untuk berdiri di atas kemampuan sendiri.
Jika generasi muda mampu kembali menjadi generasi pencipta, bukan sekadar konsumen, maka kemandirian bangsa bukan hanya menjadi cita-cita, tetapi dapat menjadi kenyataan.(Red/Adm-SB)




















Komentar