oleh

Seni Musik Dambus di Ambang Kepunahan, Regenerasi dan Perhatian Pemerintah Dipertanyakan

banner 468x60

BANGKA BELITUNG,SERIBU PENA — Seni musik dambus sebagai salah satu warisan budaya Bangka Belitung dinilai semakin menghadapi tantangan serius. Perkembangan zaman dan derasnya arus musik modern perlahan menggeser keberadaan musik tradisional yang selama ini menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.

Kondisi tersebut tidak hanya terlihat dari semakin berkurangnya pentas seni dambus, tetapi juga dari minimnya regenerasi pemain dan pelaku seni dambus di kalangan generasi muda.

banner 336x280

Pembina Yayasan Lembaga Sosial, Advokasi, Budaya dan Cinta Indonesia (YLSABCDI), Eko Nurdiansyah, menilai pelestarian seni dambus membutuhkan perhatian dan program yang lebih serius dari pemerintah maupun seluruh pemangku kepentingan terkait.

Menurutnya, keberadaan musik dambus tidak cukup hanya dipertahankan melalui kegiatan seremonial. Diperlukan pembinaan yang berkelanjutan agar generasi muda mengenal, mempelajari, sekaligus mampu memainkan musik tradisional tersebut.

«“Jika regenerasi musik dambus semakin tidak mengenalnya dan generasi muda tidak lagi mempelajarinya, maka musik seni dambus akan hilang. Artinya, kita telah kehilangan sebagian jiwa bangsa,” ujar Eko.»

Ia menilai salah satu persoalan yang menjadi tantangan adalah semakin terbatasnya ruang pentas bagi kesenian tradisional. Di tengah dominasi musik modern, seni dambus membutuhkan ruang untuk tampil, berkembang, dan diperkenalkan kepada generasi muda.

Menurut Eko, alasan keterbatasan anggaran tidak semestinya membuat program pelestarian budaya berjalan setengah hati. Pemerintah bersama instansi terkait perlu mencari pola pembinaan yang berkelanjutan, termasuk melalui program pendidikan budaya, festival daerah, sanggar seni, serta pelatihan bagi anak-anak dan generasi muda.

YLSABCDI Mulai Gerakan Pelestarian

Di tengah minimnya dukungan berbagai pihak, khususnya pemerintah dan instansi terkait, YLSABCDI berupaya mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan seni budaya lokal.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya daerah, YLSABCDI telah melakukan gerakan budaya tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang dipusatkan di Desa Air Duren, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka.

Gerakan tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah untuk kembali memperkenalkan kesenian tradisional kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Eko mengatakan pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada komunitas seni atau organisasi masyarakat. Pemerintah, masyarakat, pelaku seni, dunia pendidikan, dan generasi muda harus bergerak bersama.

“Ini bukan hanya tanggung jawab satu organisasi. Mari bersama pemerintah, masyarakat dan generasi muda kita hidupkan kembali seni budaya dambus agar tetap menjadi warisan bagi anak cucu dan generasi yang akan datang,” katanya.

Jangan Sampai Dambus Tinggal Nama

Seni dambus bukan sekadar alat musik atau hiburan tradisional. Di dalamnya terdapat sejarah, nilai budaya, kreativitas, serta identitas masyarakat Bangka Belitung yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, hilangnya regenerasi bukan sekadar berkurangnya jumlah pemain dambus. Jika tidak segera dilakukan langkah nyata, kekhawatiran terbesar adalah generasi berikutnya hanya mengenal dambus melalui cerita atau dokumentasi, tanpa lagi menyaksikan dan memainkan kesenian tersebut secara langsung.

Pelestarian budaya pada akhirnya membutuhkan lebih dari sekadar slogan. Diperlukan keberpihakan dalam bentuk pembinaan, ruang pertunjukan, pendidikan budaya, dukungan anggaran, dokumentasi, serta kesempatan bagi generasi muda untuk belajar dan tampil.

Jika langkah tersebut tidak dilakukan sejak sekarang, bukan tidak mungkin seni dambus yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bangka Belitung perlahan hanya tinggal nama.

“Seni dambus harus diwariskan, bukan sekadar dikenang.”

(Red/Adm SP)

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *