PANGKALPINANG, SERIBU PENA – Kreativitas tak cukup berhenti menjadi hobi. Ketika diolah dengan keterampilan, sentuhan desain, dan orientasi pasar, kerajinan tangan bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi perempuan. Inilah peluang ekonomi yang dibidik Dewan Pengurus Cabang (DPC) Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kota Pangkalpinang melalui workshop decoupage, Jumat (9/10/2026).
Workshop yang dibuka langsung Ketua DPC IWAPI Pangkalpinang, Sri Kristin Sutanegara, tersebut bukan sekadar agenda pelatihan kerajinan. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkenalkan keterampilan kreatif yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai jual, terutama bagi ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sri Kristin Sutanegara menegaskan, penguatan keterampilan menjadi salah satu langkah untuk membuka peluang ekonomi perempuan. Dengan bekal kreativitas yang tepat, perempuan diharapkan tidak hanya menjadi konsumen produk kerajinan, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai tambah.
“Melalui workshop ini, kami ingin membekali ibu rumah tangga dan para pelaku UMKM dengan keterampilan yang bisa dikembangkan menjadi peluang usaha. Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan saja, tetapi bisa melahirkan produk-produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan membantu meningkatkan pendapatan keluarga,” ujar Sri Kristin.
Menurut dia, peluang usaha tidak selalu harus dimulai dengan mendirikan bisnis berskala besar. Keterampilan yang dikuasai secara bertahap dapat menjadi modal awal untuk membangun usaha rumahan. Namun, kreativitas perlu diikuti kemauan berinovasi, menjaga kualitas, serta membaca kebutuhan konsumen agar produk memiliki peluang bersaing di pasar.
“Kami ingin peserta berani mencoba, berani berkarya, dan melihat bahwa keterampilan yang dipelajari hari ini bisa dikembangkan lebih jauh. Jika ditekuni dengan serius dan dikelola dengan baik, kerajinan seperti ini berpotensi menjadi usaha produktif,” katanya.
Decoupage merupakan teknik menghias benda dengan menempelkan kertas bermotif khusus, kemudian melapisinya menggunakan bahan pelindung untuk menghasilkan tampilan yang menarik. Teknik ini dapat diaplikasikan pada beragam produk, mulai dari tas pesta, dompet koin, kap lampu, hingga berbagai aksesori dekorasi rumah tangga.
Nilai jual produk tidak hanya terletak pada fungsi barang, tetapi juga pada desain, perpaduan motif, kerapian pengerjaan, dan keunikan hasil akhir. Ruang kreativitas tersebut memungkinkan peserta mengembangkan produk dengan karakter berbeda sesuai selera dan kebutuhan calon pembeli.
Dalam kegiatan itu, tim kreatif Gardenia Florist bertindak sebagai pengajar sekaligus pendamping peserta. Materi disampaikan melalui praktik langsung, mulai dari pengenalan alat dan bahan, pemilihan desain, persiapan media, pengaplikasian motif, hingga penyelesaian produk.
Pendampingan dilakukan selama proses berlangsung agar peserta dapat mengikuti setiap tahapan sesuai kemampuan masing-masing. Melalui metode praktik, peserta diharapkan memperoleh pengalaman yang dapat diterapkan kembali secara mandiri setelah kegiatan berakhir.
Bagi IWAPI Pangkalpinang, pengembangan keterampilan kreatif juga menjadi ruang untuk mempertemukan perempuan dengan pengalaman dan latar belakang usaha yang berbeda. Peserta yang terdiri atas pengurus DPC IWAPI Pangkalpinang dan pelaku UMKM dapat saling bertukar gagasan, memperluas jejaring, serta membuka peluang kolaborasi.
Sri Kristin berharap workshop tersebut menjadi awal bagi peserta untuk terus mengembangkan kemampuan dan mengubah kreativitas menjadi kegiatan produktif.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini bisa dipraktikkan kembali di rumah maupun dikembangkan di lingkungan masing-masing. Selain menambah keterampilan, kami ingin kegiatan ini memperkuat kebersamaan, memperluas inspirasi, dan mendorong perempuan semakin mandiri secara ekonomi,” tuturnya.
Workshop decoupage ini menjadi salah satu upaya IWAPI Pangkalpinang memperkenalkan alternatif usaha kreatif yang dapat dikembangkan secara bertahap. Tantangannya, tentu, tidak berhenti pada kemampuan membuat produk. Konsistensi kualitas, penentuan harga, kemasan, promosi, dan akses pasar akan ikut menentukan apakah karya tersebut mampu berkembang menjadi usaha berkelanjutan.
Sebab, keterampilan membuka pintu, tetapi kualitas produk dan kemampuan membaca pasar yang menentukan sejauh mana usaha dapat melangkah.(Red-SB)














Komentar